Kapitalis = Kanibal Utopis
Sempet anusias mengikuti berita pertemuan G-20 yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu di Inggris dan bahkan aga sediki kaget karena ternyata demonstrasi yang mengusung isu-isu anti kapitalisme itu sendiri memakan korban setidak nya 1 orang meninggal. Tapi hal yang lebih bikin gw ga percaya lagi yaitu di saat paper gw masih belum di analisis, gw malah nulis ini. Fiuh…sebenernya ini adalah unek-unek gw atau lebih tepatnya obrolan analog selama perjalan gw pulang-pergi klo harus melewati rute yang melintasi tiga mall sekaligus. Mall adalah tempat segalanya bagi kebanyakan orang. Tempat untuk pergaulan, belanja, nonton, makan, sekedar nongkrong atau mejeng. Tapi bagi sebagian yang lain, mall adalah tempat kerja mereka sehari-hari, sales promotion girl, penjual tiket bioskop, pelayan, cleaning service, dll. Dan juga bagi sedikit orang lainnya (sangat minoritas ) mall adalah tempat yang memberikan dampak yang kurang baik. Yang dimana bagi anak-anak adalah tempat mereka belajar untuk menjadi lebih konsumtif dan melek merek dari sejak dini dan mungkin ini juga merupakan salah satu warisan dari orang tua mereka .Bisa dikatakan ada kemungkinan menyangkut nama baik keluarga karena di mana dan dengan siapa anak-anak mereka bergaul adalah hal yang dapat menentukan reputasi mereka diantara kalangannya.
Sempet anusias mengikuti berita pertemuan G-20 yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu di Inggris dan bahkan aga sediki kaget karena ternyata demonstrasi yang mengusung isu-isu anti kapitalisme itu sendiri memakan korban setidak nya 1 orang meninggal. Tapi hal yang lebih bikin gw ga percaya lagi yaitu di saat paper gw masih belum di analisis, gw malah nulis ini. Fiuh…sebenernya ini adalah unek-unek gw atau lebih tepatnya obrolan analog selama perjalan gw pulang-pergi klo harus melewati rute yang melintasi tiga mall sekaligus. Mall adalah tempat segalanya bagi kebanyakan orang. Tempat untuk pergaulan, belanja, nonton, makan, sekedar nongkrong atau mejeng. Tapi bagi sebagian yang lain, mall adalah tempat kerja mereka sehari-hari, sales promotion girl, penjual tiket bioskop, pelayan, cleaning service, dll. Dan juga bagi sedikit orang lainnya (sangat minoritas ) mall adalah tempat yang memberikan dampak yang kurang baik. Yang dimana bagi anak-anak adalah tempat mereka belajar untuk menjadi lebih konsumtif dan melek merek dari sejak dini dan mungkin ini juga merupakan salah satu warisan dari orang tua mereka .Bisa dikatakan ada kemungkinan menyangkut nama baik keluarga karena di mana dan dengan siapa anak-anak mereka bergaul adalah hal yang dapat menentukan reputasi mereka diantara kalangannya.
Memang mereka sangat royal dalam membelanjakan uang tapi miskin dalam berpikir logika. Dan pihak yang mendapatkan keuntungan dari semua ini adalah para kaum kapitalis yang berperilaku seperti kanibal dengan meraup sebanyak-banyaknya uang dengan mejejalkan doktrin-doktrin berbagai macam merek-merek yang dijamin berkhasiat dapat meningkatkan status sosial mereka khususnya kepada para kaum social climber yang semakin banyak jumlahnya (khususnya) di Jakarta senidiri. Bahkan tidak butuh sensus untuk mendatanya. Ga jarang gw liat mobil-mobil mewah bahkan yang paling exclusive sekali pun dan bisa dibilang banyak beredar di jalan raya (terutama di sekitar tempat pergaulan yang lagi hip)atau bahkan di tempat parkir di kampus sekalipun. Padahal ga sedikit juga mobil-mobil itu pastinya masih berstatus kredit. Ini juga menjadi salah satu gaya hidup yang digandrungi, yaitu ngutang. Kalo di jamannya Scout di To Kill A Mockingbird, membaca dan menulis adalah hal yang sulit, maka untuk tidak kredit adalah hal yang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang saat ini. Bahkan ada yang bilang kalau kita ngga kredit maka ngga ada yang bisa dibeli. Mmm…kalo menurut gw sih belilah barang yang sesuai kemampuan dan yang terpenting harus sabar untuk rajin menabung walaupun disaat kita udah mampu beli, eh ternyata barangnya udah ngga ada di pasaran lagi yah…ada baiknya berprinsip ‘mati satu tumbuh seribu’. Di saat seperti ini lah gw memandang orang-orang bank termasuk yang budiman karena mengajak kepada kebaikan dengan cara menabung. Tapi di sisi lain mereka lebih gencar untuk mempromosikan kredit yang seakan terdengar lebih menarik daripada menabung itu sendiri. Maka sepertinya….ngga jauh beda ya sama kaum kapitalis. Tapi di saat gw mengumpat-ngumpat para kapitalis yang masih bisa mendapat keuntungan di krisis ekonomi global ini, eh para high end people atau juga socilaita nya mah asik-asik aja bergaya hidup mewah. Memang gw ngga menyalahkan mereka dengan gaya hidup yang demikian selama mereka sangat teramat mampu untuk menjalankannya. Tapi gw merasa kontribusi mereka dalam memajukan negara kayanya aga kurang tuw. Di sisi lain, penduduk yang terbilang hidup di perkampungan pun udah melek merek (brand). Franchise kaya McDonald, KFC, bahkan Krispy Kreme udah semakin melebarkan sayapnya jauh bermil-mil dari negara asalnya dan mendarat sampe ke Gaplek, Cireundeu dan Lebak Bulus.Pola hidup masyarakat yang haus akan status sosial semakin memperbesar keuntungan para kapitalis yang bermodalkan doktrin materialistis. Pada akhirnya ini semua akan melenyapkan keaslian dan juga identitas bangsa dan negara. Yang paling menyedihkan yaitu kita adalah orang-orang yang dapat dengan mudah di dikte hanya dengan menyebutkan suatu merek, suatu benda yang menjadi acuan untuk mengenal seseorang. ‘Judge the book by its cover’ adalah sikap yang sering kita lakukan secara ngga sadar. Berpenampilan untuk menarik perhatian dengan kesan yang baik adalah sikap yang sangat sadar kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, jadilah sampul buku yang baik, yang mengedepankan kepribadian dan keaslian dan berpegang teguh pada suatu ideologi atau keyakinan yang dapat menjadi landasan sebagai pihak netral yang menilainya. Para kapitalis hanyalah sebagian kecil peranakan iblis yang habis-habisan menggoda manusia untuk meramaikan tempat bernaung mereka yaitu neraka. Kalo ada tempat yang sangat teramat jauh lebih baik dari neraka, kenapa kita harus bersusah payah menjadi salah satu penghuni neraka itu sendiri…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar